Rabu, 16 Oktober 2013

Sakit di Kampus

Saya pernah dua kali sakit waktu jauh dari orang tua. Kalau saya sakit, yang ada di pikiran saya cuma ibu dan ibu. Karena dari kecil yang mengurus saya kalau sakit ya ibu. Termasuk yang marah karena saya nggak bisa mencegah diri untuk jatuh sakit. 

Di Korea, yang merawat saya adalah Kak Isna dan klinik kampus. Enaknya kuliah di sini, kalau sakit bisa dapat obat dan konsultasi gratis. Walaupun obatnya terbatas untuk penyakit ringan, minimal merasa diperhatikan dokter. Kalau ada "apa-apa" tidak kalang kabut, deh, kita. Tenang kan jadinya.


Jumat, 11 Oktober 2013

Paling dan Paling

Owl (dosen) adalah salah satu dosen favoritku. Ia mengajar di kelas percakpan bahasa Inggris. Kelasnya selalu aktif; metoda mengajarnya inovatif. Hari ini, ada satu yang spesial. Owl mengajak seorang English native speaker, yaitu Greg, dari Inggris. Ia adalah seorang Couchsurfer, backpacker sejati yang sudah pergi keliling ke berbagai negara di dunia dan memintanya untuk berbagi pengalaman di kelas.

Owl menyilakan semua murid di kelas untuk bertanya pada Greg tentang apa saja. Tujuannya sederhana: supaya kami bicara. Ada yang bertanya tentang pengalaman paling mengesankan, negara yang paling sulit birokrasinya untuk dapat visa, negara dengan orang-orang yang paling baik, negara dengan pemandangan yang paling cantik, negara yang paling Greg sukai.

Namun kemudian Owl menyela sebelum Greg menjawab.



Kenapa Paling?
"Budaya orang Korea adalah budaya orang perfeksionis dan superior. Mereka selalu menginginkan sesuatu yang paling. Termasuk dalam bekerja dan berpakaian. Mereka selalu berkompetisi dan mereka tidak akan maju kalau mereka tidak benar-benar ahli di bidangnya. Lain dengan budaya di Amerika. Mereka adalah orang-orang yang terbuka dan tidak takut salah. Go! You gotta try! You have to express your happiness, sadness! You have to go wrong! Try! That's okay!"

Mungkin salah satu penyebab mengapa orang Korea sulit berbahasa asing meskipun sudah belajar sejak kecil adalah karena mereka terlalu malu untuk latihan. Padahal, bahasa adalah keterampilan, bukan pengetahuan. Saya yakin pelajaran yang diberikan di sekolah sudah cukup banyak. Negara ini juga salah satu negara dengan pengeluaran terbesar untuk pendidikan. Tapi, buat orang Korea, masalahnya adalah malu kalau tidak sempurna--tidak jadi yang paling. Maka, kembali ke pasal satu. Hahaha.

Bagaimana Kalau Tidak Paling?
Ini membuat saya berpikir apakah di sendi kehidupan lain mereka akan merasa tertekan juga kalau tidak jadi yang nomor satu. Mungkin ini salah satu alasan mengapa walaupun sudah hidup sejahera dengan GDP nomor 12 di dunia, namun dalam hal Rangking of Happiness (UNSDSN, 2013) Korea adalah nomor 41 di dunia.

Bagaimana dengan di Indonesia?
Saya merasa sangat beruntung tinggal di Indonesia. Indonesia adalah negara moderat. Di Indonesia tentu masih ada nilai-nilai sosial bahwa kita harus bekerja keras dan berjuang untuk menjadi yang terbaik. Tapi, kita tidak punya konsep kesempurnaan adalah yang utama. Konsep itu hanya ada di sekolah yang memberikan sistem ranking. Itu sudah dihapuskan sejak saya SMA. Itu adalah sistem yang feodal. Indonesia memang rendah dalam hal GDP perkapita dan jika dibandingkan dengan Korea, Indonesia sepuluh kali lebih rendah. Namun dalam hal Rangking of Happiness, kita ada di nomor 76, tidak terlalu jauh dari Korea. Menurut data tersebut, Indonesia punya tingkat kebebasan pilihan hidup dan kedermawanan yang lebih baik dari pada Korea. Oh, bahkan tingkat kedermawanan Indonesia adalah yang paling tinggi di dunia. Terima kasih, orang Indonesia! Saya mau pulang! Saya semakin mengerti betapa enaknya hidup di Indonesia.

Ada satu hal lagi yang membuat saya berpikir tentang "paling". Kata ini bisa membuat kita lupa bahwa setiap hal di dunia ini punya sisi positif yang tidak bisa dibandingkan dan hanya bekerja sesuai situasi di sekitarnya.

Kamis, 10 Oktober 2013

Kelas Daring Alternatif

Setiap hari Selasa saya akan libur. Muahahaha ...

  

Kemarin, Pak Myungsoo (dosen saya) mengumumkan bahwa beliau menemukan bentrok jadwal. Ceritanya, beliau dipilih untuk memimpin salah satu departemen di organisasi luar kampus dan jadwal bekerjanya bertabrakan dengan jadwal mengajar di kelas, sehingga dengan terpaksa beliau memindahkan jadwal kelas saya ke kelas malam. Di lain pihak, saya dan beberapa teman lainnya bertabrakan jadwal.

Bagaimana kampus menyelesaikannya?

Akhirnya, Pak Myungsoon mengambil inisiatif untuk membebaskan kami yang berhalangan hadir dari keharusan untuk datang ke kelas.

Huahahaha. 

Sebagai gantinya, beliau menyediakan unggahan seluruh materi yang bisa diakses oleh setiap murid. Caranya, mahasiswa hanya perlu log in ke website dan klik kelas yang bersangkutan, belajar, kemudian mengirimkan tugas-tugas melalui e-mail dosen. Wah, bagus juga kalau diterapkan di Undip. Inspiratif. Nanti kelas pasti sepi.

Online course resource of Pak Myungsoo's class


***

Oia, salah satu karib saya yang kuliah di MIT merekomendasikan EDX untuk alternatif kuliah daring (dalam jaringan [a.k.a onlen]). Pelajarannya gratis dan asyiknya lagi mereka juga menyediakan sertifikat. Lumayan, kalau kamu punya waktu luang dan merasa perlu untuk "menyegarkan pikiran". Selamat belajar!

Ini ada bonus foto-foto cantiknya kampus di musim gugur!



Rabu, 02 Oktober 2013

Free Trip

Sering kali saya membenci fotografi karena ia mengambil jatah saya untuk menguraikan cerita dengan kata-kata. Pada gilirannya saya cukup melihat sedetik saja sudah terasa segalanya. Apa lagi kalau cerita itu datangnya dari kamera orang lain. Duh, jadilah jari-jariku lumpuh.

Beberapa tangkapan kamera yang saya suka datang dari Btiti—seorang teman baik semua mahasiswa internasional di KNU. Selama dua hari di awal Oktober ini, seluruh mahasiswa internasional di provinsi Gangwon melakukan pertemuan dalam acara bertajuk "Cultural Exchange" bertempat di kota Pyeongchang, tempat yang akan menjadi tuan rumah olimpiade musim dingin 2018 nanti. Semua biaya akomodasi dan transportasinya dibiayai oleh pemerintah setempat.

Berfoto bersama di Pantai Gyeong-po, Gangwon-do

Saya merasa sangat beruntung karena punya kesempatan liburan ini. Bersama dengan dua kakak baru, bertemu orang-orang baru dengan isi kepala yang berbeda, ke salah satu tempat yang paling indah yang pernah saya singgahi sampai detik ini. Gratis, lagi! Hehehehe ...

My gang \m/

Selama dua hari kami tinggal di Alpensia resort. Rasanya seperti tinggal di cerita Cinderella!

Jalan-jalan sore dan bermain di lapang. Saya yang di balik kamera. Hahaha ...

Malamnya, kami main juga di auditorium. 

Kali ini disuguhi penampilan musik tabuh tradisional Korea dilanjutkan dengan modern-dance ala boyband; sampai main kereta-keretaan; penampilan ber-Gangnam dan Gentleman; Naveed my big buddy

Spechless... Masih banyak memori lain di salah satu provinsi yang paling cantik dan virgin di Korea ini. Kami pergi ke peternakan domba dan museum, dan bercakap-cakap, dan berpelukan, dan berfoto-foto.


Terima kasih, KNU! Terima kasih Undip! Terhitung 18 juta biaya kuliah yang harus saya tanggung demi masuk Undip, tapi tak terhitung kesempatan belajar dan mencoba banyak hal di sini dan di sana! Terima kasih juga Btti. The photo credit goes to you!

Jumat, 20 September 2013

Bagaimana Caranya Mengantri?

Menunggu bus kampus

Orang Korea akan mengantri bahkan sebelum bus yang akan mereka naiki menghampiri. Begitu caranya. Baiklah.

Sandang di Kandang

Selama tinggal di Korea, saya merasa lebih mandiri. Dulu waktu kuliah saya tergantung sama Farah (nama motor saya) dan menyerahkan segala urusan pakaian di laundrymat terdekat. Tapi, sekarang ceritanya berbeda. Pertama saya harus pergi ke mana-mana dengan berjalan kaki, serta mengurus sandang di kandang sendiri.

Di entri kemarin, tentang asrama, masih ada satu sudut yang belum saya eksplorasi, yaitu tempat cuci-cuci! Tempat cuci ini ada di lantai bawah tanah. Untuk menggunakan mesin cuci ini, kita harus membayar 100 won untuk 12 menit. Jika waktunya kurang, bisa memasukkan koin lagi. Biasanya, saya akan memasukkan 600 won atau kalau dikonversikan menjadi Rp6.000,00, dengan frekuensi mencuci 4 kali sebulan. Cukup murah jika dibandingkan dengan biaya waktu dan kesempatan kalau kita memilih untuk mencuci dengan tangan, tapi gratis.


Mesin apa tangan?

Clung ...

Kalau kita tidak punya uang koin, uang koinnya bisa ditukarkan di mesin Pak Ogah ini.

Kemudian, pakaiannya bisa kita gantungkan di jemuran yang ada di depan masing-masing kamar/koridor. Tapi, kalau yang satu ini saya tidak mengerti, kenapa disimpannya di sebelah dispenser. Ini bukan punya saya. Heu.

Kalau sudah kering, bisa disetrika sendiri di sini